Gerimis
Hari-hari di akhir pekan in,i hujan turun terus menerus.Semilir angin dan sunyinya sore terasa di pandangan ku.Galau yang ku rasa,aku tak tau apakah perasaan ini.Di hujan yang senja ini aku selau memandangi air yang turun dari langit.Seakan-akan air hujan yang turun bagaikan perasaan ku yang ingin menangis.Aku tak tau mengapa perasaan galau ini yang menyelimuti hati ku.Bagiku,perasaan ini adalah tanda tanya bagi ku.Apakah yang akan terjadi pada ku? mengapa hati ini tak tenang.
Hingga malam, hujan yang gerimis ini tak kunjung usai. Gerimis meniti pelan-pelan,membuat malam ini begitu dingin oleh hembusan angin yang kencang seakan tidak bersahabat dengan ku.aku termenung di antara jutaan titik air hujan yang mulai menderas. Aku tenggelam dalam lamunan ku,lama ku mengingat semua kenangan yang ada di antara diri ku, dan dirinya.Hari ini terasa sepi tak ada sisa cerita di siang tadi. Semua terhapus bagaikan hujan menghapus debu di halaman rumah.
***
“ Mungkin aku tak lama lagi di sini.”
“Apakah itu tidak terlau cepat. Kenapa kita tak bersama-sama menyelesaikan pendidikan ini bersama-sama?.”
“ Banyak hal yang harus ku lakukan selain menyelesaikan akademis ini. Tanggung jawab ku terhadap keluarga masih berat yang harus ku pikul. Mungkin bagi mu tidak bukan?.”
“Apakah kau harus menghapus impian mu karna tanggung jawab?.“Aku selalu mendukung mu Roby. Aku kan selau di hati mu menemani mu dalam sepi, bagaikan sahabat yang tak ingin sahabat yang di sayanginya sedih.
Aku hanya terdiam dalam kata-katanya. Air mataku terus mengalir bagaikan dua sungai yang sedang di terpa hujan deras . Aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam dalam hatiku, ku tak tau mengapa diriku seperti ini,dan ku tak tau apa arti air mataku ini.
“Sudahlah hapuslah air mata mu Lin,kau berfikir seolah-olah kita akan berpisah saja!.”Selanya serabi memmelukku dalam keheningan ku dan dirinya.
“Lina, engkau sahabat yang bagaikan malaikat bagi ku.”Ia tersenyum pada ku memandang kedua mata ku yang penuh arti menatapnya.
“Engkau terlau berlebihan menilainya.”Selaku serabi melepaskan pelukannya.
“Kenyataannya seperti itu Lin,kau selau ada di sisi ku.kau bias menjadi pendengar yang sejati bagi ku. Bukankan itu sahabat sejati Lina?Malakat bagi ku?.”Ia bertaya padaku.
AKu hanya diam seribu bahasa memandang kea rah jendela,menatap jutaan rintik air hujan yang turun di luar. Aku memandangi wajahnya. Benarkah ia akan meninggalkanku ,mungkin dalam waktu yang cukup lama. Dan ku mencoba untuk menghapus semu kenangan ku bersamnya. Apakah ia harus menghapus impiannya karana tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Ku tak bias di sini terus bersamanya, itu semua menambah luka hati ku. Ku tak tau apakah ini salah. Apakah persaan ini perasaan seseorang yang takut kehilangan kekasih yang di cintai dan di sayanginya ,ataukah rasa takut kehilangan sahabt?.
Irama musik jezz di cafa yang menambah suasana hangat yang harus ku tinggalkan yang sudah tiga jam tadi ku duduk bersamanya. Ku pamit padanya ,dia hanya diam.ku lngkahkan kaki meningaalkannya yang masih duduk di kursi di sudut ruangan yang tadi ku bersamanya.
***
Matahari sudah mulai tersenyum menyambut pagi yang begitu indah . Ku terbangunkan badan ku dalam tidur malam yang bagaikan mimpi buruk bagi ku. Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi perasan ku ini di mana Roby akan pergi dan ku tak tau kapan ia akan kembali lagi.
Handphon ku berbuyi,dering sms . Nampak dari layar tertulis
“1 pesan Roby”
Ku kuatkan diri membuka dan membaca sms itu walau bereat ku rasa dank u tau pasti itu sms bahwa dia akan pergi.
“kamu di mana lin?
Tidakkah kau inggin melepas kepergian ku?”
Ku coba menahan air mata yang mengalir di pipi ku. Ku rebahkan kembali badan ku dan mencoba menghapu kenangan tentang dirinya yang mungkin aku CINTA,yang bukan sekadar SAHABT. Ku kembali terlelap dan berharap itu semua hanya mimpi buruk.
By_safitri erliyani can